Kekuasaan ibarat pedang bermata dua. Kemakmuran dan kejayaan akan tercapai bila ia digunakan secara arif. Sebaliknya, jika ambisi kejam menunggangi kekuasaan, yang tersisa hanyalah perang dan ketakutan yang tak pernah usai.
Setiap sejarah di belahan bumi manapun pasti memiliki kisah menarik tentang perebutan kekuasaan, termasuk mongol. Pada novel ini Sinta mengangkat sebuah epik tentang Takudar Khan, seorang muslim pewaris sah tahta Mongol yang akhirnya tersingkir karena sebuah konspirasi busuk.
Di awal kisah, suasana Mongol langsung menyambut, terasa begitu nyata, seolah pembaca diajak masuk ke dalam cerita dan ikut menyaksikan bagaimana geografi negeri Jengis Khan itu. Dilengkapi dengan istilah-istilah asing seperti hooves, tolgoin, shanaavch sampai terleg del, aura ‘kemongolan’ makin kuat menguar. Namun jangan khawatir tak mengerti, Sinta sudah menyiapkan catatan kaki di setiap istilah.
Dikisahkan, selepas kudeta terselubung panglima Albuqa Khan yang menewaskan Kaisar Tuqluq Timur Khan dan Permaisuri Ilkhata, Takudar Khan menghilang. Tak bisa dielakkan, Arghun Khan sang pangeran kedua maju sebagai kaisar baru. Arghun dengan ambisi gilanya ingin menguasai dan menyatukan seluruh dunia dalam satu imperium membawa dampak besar. Puncaknya, Arghun menyiapkan pasukan untuk melakukan ekspansi ke barat, tujuan utamanya adalah Jerrusalem. Pasukan Muslim yang selama ini masih bergerak di bawah tanah merasa sekaranglah waktu yang tepat untuk memberi perlawanan.
Tapi Baruji atau Takudar malah dilanda kebimbangan, ia tahu membiarkan Arghun berarti membiarkan pembunuhan massal terhadap kaum muslim dan orang-orang tak berdosa, namun Arghun tetaplah adiknya yang ia sayangi. Ditengah suasana hatinya yang tak menentu, kekuatan umat Muslim mendapat berbagi goncangan. Mulai dari mundurnya salah satu sekutu sampai konflik-konflik internal.
Tokoh lain pun mulai memainkan perannya dengan apik. Buzun, sang pangeran ketiga yang mengabdi di kerajaan, sebenarnya tak suka dengan gaya kepemimpinan Arghun dan mulai mencari Takudar. Tak kalah menarik, wanita-wanita dalam novel ini juga memegang peranan begitu penting, menegaskan pepatah “behind the great men there are great women”. Almamuchi, seorang gadis suku Tar Muleng sekaligus pelayan setia Takudar senantiasa meneguhkan hati tuannya. Urghana, putri tertua Albuqa Khan, begitu membenci ayahnya dan Arghun, namun terpaksa harus merelakan dirinya menjadi tumbal demi keluarganya. Serta Han Shiang, istri kedua Albuqa Khan yang dulunya adalah selir Kaisar Tuqluq Timur Khan, selalu berusaha mendapatkan kekuasaan lebih dengan kelicikannya yang bagai ular berbisa.
Yang paling menarik adalah ketika pecahnya perang antara dua kubu, diceritakan Sinta begitu kolosal. Kekuatan kaum Muslim begitu tak seimbang bila dibandingkan pasukan Mongol. Senjata ampuh yang dimiliki Takudar dan sekutu-sekutunya hanyalah kekuatan iman, kepercayaan, dan ukhuwah islamiyah. Namun, ternyata ketiga hal ini sudah cukup memberi bahan bakar luar biasa bagi perjuangan Takudar. Seakan menjadi semangat yang tak pernah habis bila dibandingkan dengan kekuatan semu pasukan Mongol yang dibangun dari ketakutan tanpa ketulusan. Diibaratkan dengan brillian oleh Sinta, “Arghun membangun suatu kekuasaan yang megah bersepuh emas, tapi berpondasikan pasir”. Hal ini jugalah yang akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi Arghun dan Albuqa Khan.
Deskripsi luar biasa dari Sinta Yudisia, serta diksi yang meliuk indah sarat hikmah menjadi daya tarik tersendiri, membuat saya rela bergadang untuk menyelesaikan novel setebal 500 halaman lebih ini. Berbagi untaian mutiara pelajaran hidup dan filosofi-filosofi agung menghiasi setiap lembarnya, banyak sekali yang bisa dipetik.
Alur yang disajikan lincah melompat-lompat dari satu tokoh ke tokoh lain, tanpa kehilangan benang merah. Hal ini pula yang membuat penokohan semakin kuat. Nama-nama tokoh yang mungkin kurang familiar dan susah diingat terobati sudah. Setiap karakter memiliki andil dalam membangun kesatuan cerita yang utuh.
Tampilan buku yang dikemas menarik, cover yang elegan serta ukuran huruf yang masih bisa dinikmati tanpa harus memicingkan mata, menambah nilai plus novel ini.
Pantaslah jika The Road to The Empire mendapat award sebagai buku fiksi terbaik di Islamic Book Fair 2009 baru-baru ini. Bravo !
Filed under: lainnya | Leave a Comment »





