Hamparan ilalang hijau keemasan terbentang bagai permadani. Angin lembut menerbangkan bunga rumput dan membelai rambut Piah yang tengah duduk di atas pohon. Sinar hangat matahari mengenai kulitnya yang coklat madu. Ia menikmati simfoni alam yang menyatu di hadapannya, Piah memejamkan mata dan menghirup udara kuat-kuat.
“Hmm, wanginya bunga rumput ini.” Piah terlena dalam ekstase bersama alam.
“Hai Piah ! Turunlah ! Ayo berangkat sekolah.” Piah menghentikan kesyahduannya dan melongok ke bawah. Ia hanya nyengir melihat Omi yang berteriak sambil melompat-lompat.
“Omii, ayo naik ke atas. Kamu akan menyaksikan kerajaan alam Sumbawa yang sungguh elok.” Piah malah menanggapi teriakan Omi dengan bersajak.
“Halaah, kamu ini. Kerajaan apanya? Kita sudah hampir terlambat ini.” Omi makin kesal karena Piah menyuruhnya naik ke atas pohon. Ia sangat sadar satu hal, bahwa dirinya tidak bisa memanjat pohon.
“Haha, Omii. Kamu ini laki-laki tapi tidak bisa memanjat pohon. Laki-laki macam apa itu.” Piah malah memanas-manasi Omi. Piah tahu kelemahan sahabat karibnya itu.
“Huh, memang apa salahnya kalau anak laki-laki tak bisa panjat pohon ? Tidak ada adat yang mengharuskan laki-laki bisa panjat pohon hei Piah.” Omi melengos dan beranjak meningalkan Piah. “Aku berangkat sekarang. Terserah kamu, mau ikut atau tidak.”
Piah serta merta langsung menuruni pohon dengan cekatan. Ia menyingsingkan rok merah kusamnya. Dan menghampiri Omi dengan senyum lebar nan usil. “Kamu marah Omi? Aduh. Maaf deh, Omi kan pandai ya. Kenapa juga harus bias panjat pohon segala?”
“Baguslah kalau kamu mengerti.” Omi langsung merangkul Piah akrab. Mereka menyusuri padang ilalang, kedua anak itu terlihat seperti titik putih di antara karpet hijau keemasan. Langkah lari kecil Piah dan Omi saling bersusulan menuju sekolah.
@@@
“Kak, batu hijau ternyata benar-benar ada !” Piah kecil menunggui kakaknya yang sedang asyik menyulam. Keluarga Piah hidup dari hasil sulaman kakaknya, mereka memang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal ketika mencari kayu bakar di hutan. Kata orang desa, orang tua Piah diambil penunggu hutan. Tapi siapa yang tahu, yang jelas sampai saat ini orang tuanya tak pernah kembali lagi.
“Eh? Batu hijau katamu? Itu hanya legenda Piah.” Marti, kakak Piah, hanya melihatnya sekilas kemudian melanjutkan sulamannya.
“Iih, kakaak. Batu hijau itu benar-benar ada kak. Lalu Arif pernah melihat batu hijau di hutan. Dan ada sesuatu yang bersinar di batu hijau itu. Hebat kan !” Piah menceritakan kembali apa yang didengarnya dari orang-orang desa. Matanya yang bening berkilat-kilat senang.
“Piah piah, percaya saja kamu sama Lalu Arif pengkhayal. Dia kan memang suka mengarang cerita aneh agar bisa jadi pusat perhatian.” Marti menanggapi celotehan Piah dengan dingin.
“Tapi semua orang desa membicarakan batu hijau yang dilihat Lalu Arif.” Piah mencoba membela diri.
“Kalau batu hijau benar-benar ada, mengapa Lalu Arif tak membawanya ke desa?” Tangan lincah Marti tetap asyik dengan sulamannya, ia hanya menggelengkan kepalanya sejenak.
“Aa, kata Lalu Arif, karena batu hijau itu batu keramat. Makannya ia tak berani membawanya.”
“Alaaah, omong kosong. Bualan Lalu Arif saja itu. Dia itu anak pemuka desa, tapi kok suka berbohong.” Marti menghentikan sulamannya sejenak dani berbicara dengan dirinya sendiri. Ia menghela napas dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Piah hanya cemberut sambil melihat kakaknya yang tetap asyik.
“Huh, sudahlah. Yang penting aku percaya, batu hijau itu benar-benar ada ! Dan suatu saat aku akan membawakannya untuk kakak. Lihat saja nanti. Kita bakal jadi orang kaya jika memiliki batu itu.” Piah tetap tidak kehilangan semangat. Ia berujar berapi-api. Sementara Marti hanya tertawa kecil, meremehkan.
@@@
“Hah, Omi. Kau ini hati-hati dong. Tak lihat ada batu besar apa?” Piah memukul-mukul punggung Omi yang memboncengnya naik sepeda. Kemarin Omi dibelikan sepeda baru oleh ayahnya yang baru pulang merantau. Omi hanya mengangkat tangannya, tanda semuanya beres. Dari kecil kebiasaan Omi tidak berubah, batin Piah. Ingatannya teringat ketika Omi SD memaksakan dirinya memanjat pohon menyusul Piah. Ia terjatuh sebelum sampai ke dahan, cukup tinggi untuk ukuran anak-anak. Piah menjerit dan melompat ke bawah menolong Omi, tapi Omi menghindarinya dan mengangkat tangan kanan. Ia langsung menampakkan senyum jenakanya dan berkata semua beres, tak apa-apa. Kini mereka beranjak remaja, sudah menngunakan seragam biru tua.
“Maaf Piah, aku masih belum mahir mengendarai sepeda ini. Tinggi sekali sadelnya. Haha.” Omi terus melaju sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal.
“Yah.. Maklum lah, kamu memang pendek Mi.” Piah meledek Omi. Yang diledek hanya tertawa dan mengiyakan. Tak sengaja tatapan Piah terpaku pada bahu bidang Omi. Aah, kenapa bahu itu sungguh berbeda dari Omi yang dulu. Piah langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat setelah melamun cukup lama.
“Piah, jangan goyang-goyang. Bisa-bisa aku jatuh !”
“Oh ya. Ah. Omi, Setelah lulus SMP kamu mau kemana?” Piah kelabakan dengan pikirannya sendiri dan melontarkan pertanyaan asal-asalan. Ia bersyukur Omi tidak melihat mukanya saat itu, pasti muka Piah bagai kepiting rebus, merah tak karuan.
“Tumben kamu menanyakan hal seperti itu? Aku kira pikiranmu hanya dipenuhi bagaimana cara menemukan batu hijau.” Omi tergelak sampai sepeda yang dikendarainya oleng.
“Memang kenapa kalau pikiranku hanya dipenuhi batu hijau ?!” Piah sedikit berteriak melawan deru angin yang kencang.
“Oh, tidak apa-apa kawan, peliharalah terus imajinasimu itu.” Piah ingin memprotes kata-kata imajinasi dari Omi, tapi sebelum sempat dia bersuara, Omi sudah menyahut lagi. “Aku ingin bersekolah terus. Mencari ilmu sebanyaak-banyaknya. Aku haus Piah, haus akan hal-hal baru, haus akan hukum fisika yang fenomenanya tersebar di muka bumi ini, haus ingin tahu vegetasi alam Sumbawa, Samawa yang Tuhan anugerahkan pada kita. Aku ingin memenuhi dahaga itu. Dan…” Omi tak meneruskan kalimatnya.
“Dan.. apa Omi?” Piah penasaran, ia sudah lupa akan kalimat protes yang hendak dilontarkannya pada Omi.
“Dan.. Yang terakhir tak akan kuberitahu padamu. Rahasia ! Nampaknya aku telah berbicara terlalu banyak.”
“Omii, kita sudah bersahabat bertahun-tahun, kamu masih main-main rahasia denganku.” Piah cemberut sekarang. Sedangkan Omi hanya tersenyum, misterius.
“Eh, ngomong-ngomong. Bukannya sekolah sampai SMP seperti kita ini sudah merupakan hal luar biasa Omi? Aku sih sudah sangat bersyukur, kakak bekerja habis-habisan untuk menyekolahkanku sampai SMP. Aku juga sudah capek sekolah, pikiranku sudah penuh rasanya. Memang kamu mau melanjutkan sekolah dimana? Di kota bahkan belum ada SMA.” Piah tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
“Yaah, dimana ada SMA, disitulah aku akan pergi sahabatku Piah. Bahkan meski harus keluar pulau.” Entah mengapa, tiba-tiba terasa ada lubang besar di hati Piah, bila membayangkan Omi akan pergi jauh. “Bagaimana denganmu Pi?”
“Aku? Tentu saja aku akan membantu kakak menyulam dan melanjutkan ekspedisi batu hijau ke dalam hutan Taliwang. Konyol ya?” Piah menertawakan obsesinya sendiri.
“Tidak sama sekali. Itu tidak konyol. Bahkan aku pun percaya bahwa batu hijau itu memang benar ada, dan benda itu memang memancarkan sinar kuning.” Omi berkata dengan yakin. Suaranya menyatu dengan friksi udara di sekitar sepeda dan masuk ke telinga Piah sebagai lecutan semangat untuk benar-benar menemukan batu hijau idamannya. Walaupun Piah agak bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan Pmi, tapi dia hanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri.
@@@
“Oh my Lord ! Thank you very much. You’re very kind.” Suara berat dari bule bermata hijau dan berambut coklat memenuhi ruangan.
“Eh, umm. Anda bisa berbahasa Indonesia Pak?” Kepala desa Nampak bingung mendengar ucapan terimakasih si bule saat ia menghidangkan teh dan makan siang lengkap. Bau ayam taliwang yang berlumuran bumbu menyebar harum, menggelitik perut siapa saja yang berada di situ.
“Yes, tentu saja saya bisa. Saya sudah belajar bahasa Indonesia sejak dua tahun yang lalu. Dan.. panggil saja saya Edward. OK?” Edward langsung mencicipi ayam taliwang yang berada di depannya. Wajahnya nampak berseri saat bumbu menyentuh lidahnya.
“OK pak Edward. Kalau boleh saya tahu, mengapa Anda jauh-jauh mengunjungi pulau Sumbawa? Memang ada yang istimewa dari pulau kecil semacam ini?”
“Huss…” Edward mengangkat jari telunjuk dan mengatupkannya pada mulut. “Bagaimana bisa Bapak Kades menanyakan apa istimewanya pulau ini? Ckck… Sumbawa adalah surge dunia Pak. Di sini Tuhan menitipkan suatu kemuliaan yang sangat berharga. Lagipula makanannya juga enak. Haha.” Edward terus memuji-muji Sumbawa, seakan-akan di pulau itu dilimpahi berkah ratna mutu manikam. Kepala desa mendengarkan dengan wajah serius, namun sebenarnya dia tak mengerti apa yang Edward maksud. Menurutnya Sumbawa hanyalah pulau kecil dengan alam elok, tapi terasing dari gemerlapanya kemewahan dunia.
“Excuse me pak Kades. Apa anda pernah mendengar ada batu hijau di sini?”
“Eh? Batu hijau ? Itu hanya dongeng pengantar tidur Pak.” Kepala desa memandang Edward dengan heran.
“Begitukah? Hmm, terimakasih atas jamuannya. Saya ingin berjalan-jalan, boleh?” Edward mengelap mulut dan tangannya dengan tisu.
“Tentu saja boleh, sebentar, saya panggilkan anak buah saya untuk menemani Anda.” Tawaran Kepala Desa langsung dijawab gelengan oleh Edward. Ia tersenyum sambil sedikit membungkuk, kemudian pergi begitu saja.
“Waah, dasar bule. Aneh-aneh saja tingkah lakunya.” Kepala desa bergumam.
Di luar, Edward melangkahkan kakinya ke arah hutan. Ia telah mempelajari geografi dan lansekap daerah itu dari peta. Rambut coklatnya bergerak-gerak terpapar angin yang cukup kencang di musim kemarau. Angin kemarau yang kering dan dan membawa debu membuat bibirnya kering dan retak di sana- sini, meski begitu, senyum simpul tak pernah pudar dari bibirnya.
“Inikah hutan Taliwang ? Sungguh masih perawan.” Edward memasuki hutan dengan hati-hati. Pohon-pohon bidara serta pohon asem yang menjulang tinggi memenuhi hutan, menaunginya dari terik matahari bulan Juli. Edward semakin ke dalam. Ia melihat seorang wanita muda sedang mencari sesuatu. Aha, siapa lagi kalau bukan Piah.
“Miss, what are you doing here?” Edward spontan berteriak dan bertanya pada Piah. Ia sedikit tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.
Begitu juga dengan Piah, raut kaget dan penuh tanda Tanya langsung memancar dari wajah Piah. Ia meletakkan sekop kecil dan membersihkan tangannya dari tanah.
“Find the green stone mister.” Piah mencoba mempraktekkan bahasa Inggris yang ia peroleh dari sekolah. “Kenapa ada bule di sini ya?” Piah berbicara dengan dirinya sendiri, ia mengira Edward tak bisa berbahasa Indonesia.
“Hahaha, saya sedang survey miss. Dan.. katamu tadi, green stone? Batu hijau bukan?” Edward sangat antusias mendengar jawaban Piah.
“Aa. Anda bisa bahasa Indonesia”
“Of course, tentu saja. Oh ya Miss, tolong ceritakan tentang batu hijau yang kamu cari. Please..”
“OK Mister, dengan senang hati ! Batu hijau adalah legenda terkenal di desa ini Mister. Tapi saya percaya itu bukan hanya legenda. Batu hijau dipercaya dapat mengeluarkan sinar kuning dan mendatangkan kemakmuran. Kalimat terakhir saya peroleh dari seorang teman. Sebenarnya saya juga tidak mengerti, mengapa dia menyebutkan bahwa batu hijau bisa memancarkan sinar kuning.” Piah sangat senang ada orang yang tertarik pada batu hijau, apalagi dia seorang bule, yang baru pertama kali Piah jumpai langsung.
“Amazing ! lanjutkan Miss…”
“Ketika saya SD, ada tetangga yang mengaku menemukan batu hijau di hutan Taliwang ini. Tapi tak ada seorang pun yang percaya padanya. Karena memang ia tak membawanya ke desa. Batu hijau adalah batu yang dianggap keramat, mungkin ia takut kena malapetaka bila membawa batu itu pergi dari tempat asalnya.” Piah bercerita dengan semangat.
“Waah, dan Miss sedang mencari batu itu sekarang. Di sini?”
“Yaah, impian saya memang menemukan batu hijau dan membawanya ke hadapan kakak saya serta penduduk desa. Mister juga sedang mencari batu hijau?” Piah makin antusias.
“Bisa dibilang begitu Miss …”
“Piah” Sahut Piah cepat.
“Edward, Edward Miller. Oh ya… di sekitar sini ada gunung api yang sudah tidak aktif bukan? Bisakah Miss mengantarkan kesana?” Piah memandang Edward penuh tanda Tanya.
“Memang ada Mister. Mengapa Anda ingin kesana? Tempat itu tak pernah dikunjungi orang. Lagipula tak ada hal yang menarik di sana. Sungguh, benar-benar tempat yang membosankan !”
“No problem Miss. Saya ingin memastikan sesuatu.” Edward tersenyum kembali. Ia kembali melihat peta yang dibawanya.
“OK, mari ! Tapi setelah mengantar Mister, saya langsung pamit. Ada yang harus saya lakukan. Pekerjaan di rumah menggunung bila sedang libur sekolah.”
“Miss kelas berapa?” Edward berusaha akrab dengan Piah.
“Saya sudah lulus SMP, tinggal menunggu ijazah.”
“Bagus bagus. Mungkin suatu saat Miss bisa bekerja di perusahaan kami.” Lagi-lagi Piah hanya menatap Edward keheranan. Perusahaan apa, pikirnya. Tak ada satupun perusahaan di Sumbawa. Paling banter juga para peternak madu, itupun tak berskala besar. Piah hanya manggut-manggut dan berjalan dengan cepat, meninggalkan Edward di belakangnya.
@@@
“Piaah… Lihat nilaiku ! Excellent !” Omi bersorak tepat di samping telinga Piah.
“Aduh Omi. Percaya aku kalau kamu memang pintar. Tapi jangan berteriak di kuping. Sakit tahu !” Piah mengusap telinganya yang berdengung. Hari itu mereka pulang dari sekolah dan mendapat ijazah, sesuatu yang begitu ditunggu-tunggu.
“Hahaha, maaf. Aku terlalu senang. Eh, bagaimana ekspedisimu kemarin?” Omi merangkul Piah sambil berusaha melihat nilai di ijazah Piah. Sontak Piah merasa jantungnya berdegub lebih cepat. Ia langsung menepis tangan Omi dari pundaknya.
“Ah, gagal total. Tapi ada hal menarik kemarin. Kau tahu..”
“Miss Piah, right !” Belum sempat Piah melanjutkan kalimatnya, Edward melambai-lambaikan tangan dari kejauhan dan bergegas menghampiri Piah. Langkah kaki Edward menimbulkan suara gemerisik yang kencang, karena ia menginjak rumput yang telah kering.
“Mister Edward ! Apa yang Anda lakukan di sini?” Omi takjub melihat bule yang biasanya hanya ia lihat di buku. Tapi sebenarnya ia tak suka dengan orang barat, dalam pikirannya orang barat adalah orang jahat yang sejak dulu gemar menjajah negeri lain.
“Aku hanya jalan-jalan. Tak terasa sudah sampai di sabana ini. Apa yang kalian bawa?”
“Ijazah, sertificate Sir.” Omi menjawab mendahului Piah.
“I see, kalian sudah lulus Junior High School sekarang. Selamat selamat !” Edward mengangkat tangannya untuk bersalaman, tapi Omi mengacuhkannya. Piah memandang Omi jengkel dan menyambut salam Edward.
“Thanks Mister.” Tangan Piah serasa copot ketika Edward mengguncang tangannya.
“Miss Piah, tahukah kau apa yang kutemukan kemarin di lereng gunung kemarin?” Piah hanya menggeleng. “Batu hijau ! Aku menemukan harta karun itu. Dan kupastikan dengan segera, pulau ini akan makmur seketika.” Piah dan Omi sama terkejutnya. Batu hijau legendaris itu ditemukan oleh seorang bule.
“Oh, benarkah? Kau membawanya sekarang?” Binar harapan mencuat di hati Piah.
“Mengapa harus kubawa, bila nanti aku bisa mendapat berton-ton batu hijau.”
“Apa maksudmu Mister? Berton-ton ? Anda kira mendapat batu hijau mudah?” Piah tak percaya akan kata-kata Edward.
“Dengan teknologi semuanya mungkin nona manis. Tenang saja Miss pasti akan kulibatkan di proses penggalian nantinya.” Edward begitu saja meninggalkan Piah dan Omi yang melongo di bawah pohon Bidara. Mereka saling bertatapan.
“Kamu dengar Omi. Mister Edward menemukan batu hijau. Oh Tuhan, batu hijau memang benar-benar ada !” Piah tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Apa kamu begitu lugu Piah ? Pasti ada maksud tersembunyi di balik semua ini. Tak mungkin orang barat seperti dia melakukan sesuatu tanpa alasan. Apa tadi katanya, pulau ini akan makmur? Cih, pasti itu hanya akal-akalan saja, mana ada kaum imperal memperdulikan nasib orang lain, apalagi penduduk pulau terpencil seperti ini ! Dan perasaanku mengatakan bahwa dia bukan orang baik !” Omi tetap menyimpan rasa tak suka pada Edward, meski ia terkesan dengan keramahannya.
“Sudahlah Omi, kamu hanya iri kan. Apa masalahnya jika dia orang barat. Yang jelas Mister Edward BERHASIL menemukan batu hijau.” Piah sedikit tersinggung dengan prasangka Omi dan kata-katanya yang menyakitkan.
“Terserahlah. Kita tunggu saja apa yang akan dia lakukan di tanah Samawa kita. Teruslah percaya padanya, dan kamu akan menyesal.” Omi mengambil sepedanya sambil terus menggerutu, ia naik dan tak mengajak Piah duduk di belakangnya. Piah makin kesal dengan ulah Omi. Tapi ia hanya menatap Omi dan sepeda tingginya perlahan-lahan menjauh, semakin kabur ditelan angin bercampur pasir.
@@@
Sebuah truk besar bertuliskan Caterpillar 793 menderu-deru. Piah ketakutan melihat truk yang lebih besar dari rumahnya. Rodanya yang kokoh bahkan dua kali tinggi tubuhnya. Tanpa ia sadari, tubunya bergetar. Ajakan Edward untuk bekerja bersamanya ia terima, Piah pun langsung ke gunung, lokasi Edward menemukan batu hijau. Tapi pemandangan di hadapannya sekarang sungguh miris.
“Mereka mengelupasi kulit bumi Mister !” Suara Piah muncul tenggelam di antara suara mesin truk yang bising. Piah melihat gunung dan pohon-pohon di sekitar hutan yang seolah dihempaskan oleh truk itu. Apalagi truk yang beroperasi tak hanya satu, tapi puluhan. Tanah coklat menumpuk di beberapa tempat, sementara di tempat yang lain terdapat cekungan dalam. Sekarang pemandangan di hadapannya terlihat bagai permukaan bulan yang pernah Piah lihat di buku fisika.
“No Piah, mereka tidak mengelupasi kulit bumi. Tapi mereka membongkar harta karun. Emas Piah, gold !” Edward memperhatikan truk-truk itu tanpa berkedip.
“Emas ? Apa maksud semua ini?”
“Batu hijau legendarismu, menyimpan emas dan tembaga. Logam mulia paling dicari di seluruh dunia. Beruntung sekali pulau terpencil ini memiliki cadangan emas luar biasa. Mengerti Miss? Ayo kita naik ke truk, akan kuajari bagaimana cara menggunakannya.” Edward menyeret Piah masuk ke dalam truk.
Pikiran Piah berputar-putar, ia teringat pertemuannya dengan Edward di sabana. Ia teringat akan Lalu Arif yang mengatakan bahwa batu hijau itu mengeluarkan sinar. Juga perkataan Omi, batu hijau itu bersinar kekuningan. Ia teringat akan kata-kata Omi yang tak mempercayai Edward. Dan ia sungguh ingat, beberapa bulan lalu ketika Edward memintanya untuk mengantar ke gunung, pemandangan di hadapannya tak seperti ini. Gunung dan hutan bersanding mesra. Pohon asam dan bidara lebat memayungi hutan, gunung pun terlihat gagah meskipun gersang.
“Mi mister, jadi.. Dimanakah batu hijau itu?” Piah masih gemetar memegang tombol-tombol yang ada dalam truk.
“Sudahlah, itu tak penting. Yang penting kita akan mendulang banyak emas di sini. Wonderfull, right?!” Edward tak mempedulikan Piah yang mematung tak menjawab. Edward terus bersiul senang, sesekali ia melantunkan nyanyian. Suaranya timbul tenggelam bersaing dengan deru mesin besar mengerikan. Tapi Piah bisa menangkap sedikit bait nyanyian Edward. “Glory glory.. I get gold, I get glory, I get gold and I can get everything I want ! Yeah !”
@@@
Filed under: Uncategorized





